Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4
st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}Ringkasan Kotbah GKIN Tilburg
Minggu, 26 Oktober 2008
Amsal 20:22-27
“Kebaikan Melawan Kejahatan”
Raja Daud dan Raja Saul memiliki hubungan yang penuh intrik. Daud beberapa kali menyelamatkan Saul, menghiburnya dengan kemampuannya bermain harpa, mengalahkan Goliat, dan maju ke medan pertempuran memimpin tentara Israel. Dia adalah sahabat Yonathan, anak Saul, dan sekaligus menantunya. Tetapi justru Saul berusaha membunuh Daud dua kali ketika bermain harpa dan mengirim pasukannya untuk membunuhnya. Akhirnya Daud memiliki kesempatan untuk membunuh Saul, untuk balas dendam. Tetapi yang terjadi adalah Daud memotong bagian jubahnya dan bahkan merasa bersalah karenanya (1 Sam 24:5). Saul melihat sikap Daud ini dan menangis (ay. 16-17).
Ken Arok adalah seorang raja Tumapel (kemudian menjadi Singasari) pada abad 13. Ken Arok berhasil menjadi raja setelah membunuh Tumenggung Tunggul Ametung dan menyatakan perang atas Kediri. Selain membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok juga mengambil isterinya, Ken Dedes yang sedang mengandung. Anak Ken Dedes, Anusapati, kemudian membalas dendam ayahnya dengan membunuh Ken Arok – dengan senjata yang sama yang dipakai Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Tohjaya, putera Ken Arok kemudian membalas dendam kematian ayahnya dengan membunuh Anusapati, juga dengan senjata yang sama. Kisah balas dendam ini tidak berhenti di sini karena akhirnya Singasari hancur karena cerita pengkhianatan dan dendam yang tak kunjung selesai.
Saudara-saudara terkasih dalam Kristus, semua yang hidup di dunia pasti pernah terluka dan kesakitan. Yang membedakan kita sebagai pengikut Kristus dan yang bukan adalah sikap kita menghadapi kejahatan yang kita alami. Amsal adalah kitab hikmat yang merupakan nasihat dan petunjuk hidup dari tradisi generasi ke generasi. Bacaan kita kali ini memberikan penguatan kepada kita bahwa Allah adalah sumber keadilan yang sejati. Tujuan dari ayat 22 yang mengatakan, “janganlah kita membalas kejahatan” bukanlah pasifis (anti perang) atau anti keadilan. Ini mengingatkan mereka yang jadi korban kejahatan untuk tidak jatuh ke dalam lingkaran kekerasan yang sama. Kita juga diajarkan untuk tidak menjadi hakim atas kejahatan yang terjadi (Imamat 19:17-18).
Ayat 24 kemudian melanjutkan dengan menjelaskan bahwa manusia tidak akan bisa mengerti jalan hidupnya sendiri kecuali dia sudah menyerahkannya kepada Tuhan. Manusia memiliki keterbatasan untuk bisa memahami dirinya sendiri. Karena itu di ayat 27 dikatakan bahwa Allah mengetahui keterbatasan dan apa yang menjadi isi hati dari manusia itu sendiri. Jadi, karena Tuhan tahu kejahatan yang menimpa dirimu, janganlah engkau mengambil perkara ini ke dalam tanganmu sendiri dan menjadi hakim atas orang lain. Tuhan adalah sumber keadilan yang sempurna.
Saudara-saudara yang terkasih, kita melihat dua contoh bagaimana seseorang bersikap terhadap kejahatan yang dialaminya melalui cerita di atas. Kejahatan yang dibalas kejahatan tidak membuat lingkaran penderitaan bisa berhenti di situ. Inilah yang Alkitab mau ajarkan kepada kita. Allah menginginkan lingkaran kejahatan ini berhenti dan pada akhirnya Allah yang akan menjalankan keadilannya kepada kita. Kiranya Allah memampukan kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Amin!