Sebuah pesawat Air France membawa 228 penumpang jatuh di laut Atlantis dalam perjalanannya dari Rio de Janeiro menuju Paris hari Minggu malam (1 Juni 2009 dini hari). Pada bulan Mei 2009 sebuah pesawat Hercules milik Angkatan Udara RI jatuh di Madiun dan membawa 100 korban jiwa. Dua kecelakaan yang terjadi dalam waktu dekat ini mengusik rasa ingin tahu berapa banyak kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia dalam 20 tahun terakhir.
Rasa penasaran membawa saya ke situs Aircraft Crashes Record Office (ACRO) di mana saya menemukan daftar yang sangat lengkap mengenai kecelakaan pesawat terbang di seluruh dunia sejak tahun 1918. Mereka mencatat daftar kecelakaan pesawat terbang mulai yang kecil di mana tidak ada korban jiwa hingga yang saya sebut di atas. Mereka juga mencatat kecelakaan berdasarkan negara, perusahan penerbangan, dan jenis pesawatnya.
Satu hal yang membuat saya semakin gelisah adalah bandara Polonia di Medan, bandara yang secara rutin saya kunjungi, selalu mengalami kecelakaan pesawat yang memakan korban jiwa dalam jumlah besar sejak digunakan sebagai bandar udara publik di tahun 1975.
1. Pada 11 Juli 1979 sebuah Fokker F28-100 milik Garuda Indonesia menabrak Gunung Pertektekan; 64 orang tewas.
2. Kemudian pada 4 April 1987 sebuah pesawat DC-9 milik Garuda Indonesia PK-GNQ jatuh dan terbakar di landasan bandara; 26 meninggal.
3. Tanggal 20 September 1981 - DC-9 Porong Garuda mendarat darurat akibat kerusakan mesin; penumpang dan awaknya selamat.
4. Tanggal 20 November 1985 sebuah pesawat C-130H-MP Hercules milik TNI AU bernomor AI-1322 jatuh menjelang pendaratan setelah menabrak dinding pegunungan Sibayak, menewaskan 10 awaknya.
5. Kemudian pada 30 Januari 1993 sebuah pesawat SC-7 Skyvan Pan Malaysia Air Transport beregistrasi 9M-PID jatuh di kawasan hutan Aceh Timur setelah lepas landas dari Polonia; 11 penumpang dan lima awak meninggal.
6. Kemudian kecelakaan terbesar pada 26 September 1997 di mana Garuda Indonesia GA 152 jenis Airbus A300-200 jatuh di kawasan perladangan warga di Desa Buah Nabar, Kec. Sibolangit, Kab. Deli Serdang, sekitar 50 kilometer dari Medan, Indonesia. Penyebab jatuh diduga karena kesalahan petugas air traffic control (ATC) saat membimbing pilot Hance Rahmowiyogo keluar dari kabut asap 15 menit sebelum mencapai Bandara Polonia dalam penerbangannya dari Jakarta; jumlah korban 234 orang.
7. Kecelakaan terakhir adalah pada 5 September 2005 sebuah Boeing 737 milik Mandala Airlines dengan nomor penerbangan RI 091 jenis Boeing 737-200, jatuh di tengah jalan raya di Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, satu menit setelah lepas landas. Menelan korban 145 orang tewas termasuk Gubernur Sumut Rizal Nurdin.
Jumlah kecelakaan yang dialami oleh banyak pesawat ketika menuju atau berangkat dari bandara Polonia harusnya membuat mereka yang berwenang dalam masalah ini semakin teliti dalam bekerja. Sistem keamanan bandara Polonia, yang dalam pandangan saya masih carut-marut, harus terus diperbaiki. Kesemrawutan bandara Polonia juga sudah terkenal di seluruh dunia. Seorang teman saya dari Amerika Serikat menunjukkan sebuah buku travel guide internasional yang dimilikinya ketika kami hendak kembali ke Jakarta dari Medan. Dia memperlihatkan bagian warning di bukunya mengenai Polonia sebagai “the worst airport in Indonesia” karena waktu check in yang tidak jelas; seat yang sudah confirmed bisa dijual kepada orang lain; pesawat yang terlambat; hingga tidak tersedianya trolley untuk penumpang yang baru datang. Bandara Polonia juga mengalami kebakaran tahun 2006 dan 2007. Sekarang Pemda Sumut berencana memindahkan bandara Polonia ke luar kota Medan.
Daftar kecelakaan pesawat yang terjadi di Indonesia sejak 1980 adalah sebagai berikut:Tahun 1980 - 1989 mencatat 44 kecelakaan. Sebanyak 23 kecelakaan membawa korban jiwa sebanyak 253 orang, dengan kecelakaan paling parah dialami Bouraq berpesawat Vickers Viscount dengan no. penerbangan PK-IVS yang jatuh di Kerawang pada 26 Agustus 1980. Kecelakaan ini membawa korban jiwa sebanyak 37 orang.
Tahun 1990 - 1999 mencatat 55 kecelakaan. Sebanyak 36 kecelakaan membawa korban jiwa sebanyak 888 orang, dengan kecelakaan terbesar dialami Garuda Indonesia dengan armada Airbus A300-200 dengan kode penerbangan PK-GAI yang jatuh di Medan pada 26 September 1997. Jumlah korban jiwa: 234 jiwa.
Periode 2000 - Mei 2009 mencatat 44 kecelakaan. Sebanyak 26 kecelakaan membawa korban jiwa sebanyak 555 orang, dengan kecelakaan terbesar dialami Mandala Airlines dengan armada Boeing 737-200 dengan kode penerbangan PK-RIM yang jatuh di Medan pada 5 September 2005. Kecelakaan ini disebabkan oleh ekor pesawat yang menabrak pagar pembatas karena kehabisan landasan take off, yang kemungkinan besar disebabkan oleh over weight beban pesawat. Jumlah korban jiwa adalah 150 orang.
Ini menunjukkan bahwa banyak yang harus dibenahi dalam sistem keamanan transportasi pesawat terbang di Indonesia. Perbaikan signifikan juga perlu dilakukan baik terhadap sarana maupun sumber daya manusia yang mengelolanya. Semoga faktor human error yang menyebabkan kecelakaan pesawat di Indonesia bisa semakin dihindari.