Khotbah Minggu 25 Oktober 2009
Perki Buitenveldert
Apakah Warisanmu?
2 Timotius 4:1-8
Beberapa minggu yang lalu saya sedikit terkejut dan terharu ketika melihat sebuah foto di rumah Tante Tina Saragih mengenai ayat bacaan kita hari ini. Foto ini menarik perhatian saya karena saya melihat gambar Andrew Manullang di sana. Kita semua mungkin masih mengingat cerita saudara kita Andrew Manullang, putra tertua Pinta Manullang Panggabean dan Sabar Manullang. Dia terkena vonis terkena leukemia pada usia 11 tahun (lahir 1989). Ibunya melakukan berbagai cara untuk melawan penyakit ini termasuk membawanya ke Belanda untuk berobat di AMC. Pengobatan ini sempat dinyatakan sukses selama 3 tahun sampai akhirnya kembali kambuh. Andrew sendiri akhirnya memutuskan untuk kuliah di Den Haag sekaligus mengobati penyakit yang dideritanya. Berbagai cara dilakukan, namun pada Desember 2008 Andrew dipanggil kembali ke pangkuan Bapa di surga. Ayat yang digunakan pada foto itu adalah dari 2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Ya, memang benar, Andrew telah mengkhiri pertandingan dengan baik dan dia telah memelihara imannya.
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,
Bacaan kita hari ini bukan sebuah surat biasa dari Paulus kepada muridnya Timotius. Surat yang dituliskan Paulus ini hampir mirip dengan sebuah surat wasiat yang berisi permintaan dari seseorang yang akan pergi untuk selamanya. Paulus menuliskan nasihat dan permintaan terakhirnya kepada Timotius. Paulus meninggal dunia setelah ditangkap karena menyebarkan Injil di Roma dan menimbulkan kekacauan bagi para pengajar agama di sana. Dia mati karena dipenggal kepalanya, tidak lama sesudah surat ini dikirimkan. Dia kemungkinan besar menulis surat ini ketika masih ditahan di Roma dan bisa melihat sendiri akhir dari hidupnya sebagai seorang martir. Lihat bagaimana dia menggambarkan bahwa darahnya akan dicurahkan sebagai persembahan (ayat 6).
Karena mengetahui bahwa dia hidup tidak akan lama lagi, Paulus meninggalkan pesannya dengan sungguh-sungguh kepada Timotius. Kata aslinya diamarturomai diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi charge (to testify, i. e. earnestly, religiously to charge). Ini benar-benar nasihat yang diberikan untuk dilakukan, sama seperti seorang yang sakit parah yang sedang menuliskan surat wasiatnya.
Yang menarik adalah surat ini tidak ditulis dalam nada putus asa, melainkan dalam kebahagiaan. Dia menyatakan bahwa dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan sekarang memberikan penguatan kepada Timotius untuk melakukan hal yang sama. Apa pesan Paulus? Agar Timotius tetap memberitakan firman Tuhan tiap saat. Paulus hendak mendorong Timotius untuk tetap setia kepada penyebaran Firman Tuhan di saat Paulus nanti tidak ada lagi. Paulus telah memprediksikan sebuah waktu di mana orang-orang tidak akan percaya lagi kepada ajarannya. Paulus melihat bahwa akan tiba waktunya di mana orang-orang hanya akan mendengar kepada pengajar palsu yang menjauhkan mereka dari kebenaran (ay 3, 4). kemungkinan besar para pengajar ini bukan berasal dari Allah melainkan dipilih oleh orang-orang itu sendiri; mereka mencari pengajar yang baru ketika firman tuhan yang diberitakan tidak sesuai dengan keinginan mereka; mereka mencari orang yang hanya memuaskan apa yang mereka ingin dengar. Paulus memberikan sebuah petunjuk terakhir bagaimana dia bisa mengalahkan para pengajar palsu, caranya adalah, “Kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (ayat. 5) Paulus mengingatkan Timotius bahwa meskipun tantangan yang dihadapinya sangat besar, tetapi garis finishnya adalah kebahagiaan. Seperti seorang guru, seorang teman, seorang pelatih yang baik, mereka akan selalu memacu kita untuk melakukan lebih, sambil menunjukkan bahwa garis akhirnya adalah kemenangan dan kebahagiaan buat kita.
Dulu saya pernah mengikuti beberapa kursus drum dengan guru yang berbeda. Buat mereka yang sudah pernah mengikuti kursus instrumen musik apapun, kita tahu bahwa kursus itu memang membosankan. Tetapi saya menyukai guru les drum saya karena dia selalu memberi contoh tentang sebuah gerakan yang mudah, yang kalau diulang dengan tempo yang cepat akan menjadi sebuah groove yang sulit. Kalau dia melihat saya menganggap sebuah gerakan itu mudah, dia akan memperlihatkan hasil latihan apabila saya terus melatih gerakan tersebut. Ketika saya melihat hasil akhir dari latihan yang membosankan itu, saya menjadi lebih bersemangat untuk belajar. Intinya, seberapa sulitnya sebuah pelajaran, kalau guru kita memberi contoh akan hasil akhirnya, pasti muridnya akan jadi lebih bersemangat untuk melakukannya.
Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita akan fokus terhadap apa yang disampaikan oleh Paulus kepada Timotius. Kita tidak akan melihat apa yang disampaikan Paulus, melainkan lebih kepada mengapa Paulus bisa berkata demikian. Paulus adalah rasul yang dulunya adalah penyiksa orang Kristen yang kemudian berbalik menjadi pengabar Injil setelah bertemu dengan Yesus di sebuah jalan di Damaskus. Sepanjang hidupnya dia telah menyiapkan warisan terhadap kita melalui surat-suratnya maupun karya nyatanya dalam mendirikan jemaat baru. Paulus tahu bahwa akhir dari hidupnya sudah mendekat dan dia puas dengan hidupnya. Dia merasa bahwa dia sudah melakukan apa yang diminta Allah dari hidupnya, dan dia siap untuk kembali ke hadapan Allah. Paulus merasa bahwa dia sudah menjalani pertandingannya dengan baik. Sama seperti seorang atlit olahraga, dia sudah berusaha sebaik mungkin dan siap memberikan warisan yang terbaik. Seperti seseorang yang berlari estafet, dia sekarang menyerahkan tongkat larinya kepada Timotius dengan baik.
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,
Pertanyaan untuk kita sekarang adalah, apakah kita sudah berjuang dengan baik di dalam hidup kita? Apakah kalau Allah memanggil kita pulang sekarang, kita bisa mengatakan hal yang sama seperti perkataan Paulus, dan juga Andrew, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Apa warisan yang akan saudara berikan kepada generasi penerus saudara?
Salah satu hal positif yang sangat saya sukai dari tradisi Batak adalah falsafah “anakhonki do hamoraon di au.” artinya anak saya adalah tanda keberhasilan hidup saya. Keberhasilan hidup saya bukan diukur dari kesuksesan diri sendiri melainkan dari kesuksesan generasi penerus saya. Buat orang Batak warisan mereka adalah generasi penerus mereka. Buat saudara sekarang, apa yang menjadi warisan saudara untuk pekerjaan Tuhan?
Mungkin warisan saudara bukan hanya terletak di generasi penerus anda, tetapi juga di orang-orang sekitar saudara. Apakah engkau sudah memberi kesan dan warisan yang baik bagi orang sekitarmu? Manusia pada umumnya ingin meninggalkan nama yang baik sebagai warisan hidupnya.
Paulus memberi nasehat untuk menjaga iman dan telah memberi contoh yang baik kepada Timotius. Andrew memberikan contoh untuk tidak menyerah dan juga tetap menjaga iman dalam perjuangannya melawan penyakitnya. Apakah saudara sudah memberikan contoh yang baik dan menjaga iman anda dalam jalan Tuhan? Paulus memberikan warisan kepada Timotius untuk percaya kepada Kristus dan kehendak Allah. Kita juga telah diberi warisan yang sama untuk hidup sebaik mungkin dalam Kristus dan meneruskan tongkat itu kepada orang lain. Kiranya kita dimampukan untuk memberikan warisan yang baik kepada orang lain ini melalui iman kita terhadap Kristus. Amin.
Vertaling v.d. Preek 25.10.09
PERKI Amsterdam Buitenveldert
21e zondag na Pinksteren.
Wat is uw Erfenis?
2 Timoteus 4 : 1 – 8
Een paar weken geleden was ik geschrokken, maar ook ontroerd toen ik bij Tante Tina Saragih een foto zag met deze tekst als onderschrift. Deze foto trok mijn aandacht omdat het een foto van Andrew Manullang was. We weten misschien nog wel het verhaal over Andrew Manullang, de oudste zoon van Pinta Manullang-Panggabean en Sabar Manullang.
Toen Andrew 11 jaar was kreeg hij te horen dat hij leukemie had. Zijn moeder deed alles om deze ziekte te bestrijden, zelfs dat ze hem naar het AMC in Nederland bracht. Het leek erop dat de behandeling succes had, doch na 3 jaar kwam de ziekte weer terug. Andrew besloot zijn colleges in Den Haag door te zetten en tegelijkertijd zijn ziekte te behandelen. Weer werd alles gedaan, maar in december 2008 werd Andrew terug geroepen naar God’s veilige plaats.
De tekst die als onderschrift van deze foto gebruikt is staat in 2 Timoteus 4 : 7 – “ Ik heb de goede strijd gestreden; ik heb mijn loop ten einde gebracht; ik heb het geloof behouden ”.
Geliefde gemeente in Jezus Christus,
De schriftlezing van vandaag is geen gewone brief van Paulus aan zijn leerling Timoteus. Het is bijna gelijk aan een testament met het laatste verzoek van iemand die voor altijd heen gaat.
Paulus schreef zijn laatste adviezen en verzoeken aan Timoteus en overleed nadat hij gevangen werd genomen omdat hij God’s Woord evangeliseerde in Rome, wat verwarring veroorzaakte tussen de schrifgeleerden. Paulus werd onthoofd niet lang nadat hij de brief aan Timoteus had geschreven. Het is best mogelijk dat hij deze brief schreef tijdens zijn gevangenschap in Rome en zichzelf zag eindigen als “martelaar”. In vers 6 leest u hoe Paulus als plengoffer zal worden geofferd. Omdathij wist dat hij niet lang meer zou leven, schreef Paulus zijn laatste wil aan Timoteus.
Het originele woord “diamarturomai” is in het engels charge (to testify, i.e. earnestly, religiously to charge), de nadruk leggen opdat de laatste wil zeker zal worden uitgevoerd.
Het bijzondere van deze brief is dat er helemaal geen toon van wanhoop in voorkomt, eerder van blijdschap en geluk. Hij schrijft dat hij zijn taak goed heeft uitgevoerd en geeft kracht aan Timoteus om hetzelfde te doen. Wat wil Paulus eigenlijk?
Hij wil dat Timoteus steeds God’s Woord verteld en dringt erop aan dat Timoteus trouw blijft in het verspreiden van God’s Woord, ook al is Paulus er niet meer.
In de versen 3 en 4 voorspelde Paulus reeds dat er een tijd zou komen dat men de gezonde leer niet meer kunnen verdragen, maar omdat hun gehoor verwend is, ze naar hun eigen begeerte zich tal van leraars bij één zullen halen; dat zij hun oor van de waarheid zullen afkeren en zich naar de verdichtsels keren. Men was niet tevreden met het Woord van God omdat het niet strookte met wat ze zelf wilden, dus koos men zelf leraren die hun wel voldoening konden geven.
In vers 5 gaf Paulus ook nog een laatste richtlijn waarmee men deze dwaalleraars konden verslaan, namelijk :
Blijf steeds nuchter onder alles – aanvaard het lijden – doe het werk van een evangelist en verricht uw dienst ten volle.
Paulus waarschuwde Timoteus dat de eindstrijd geluk zou zijn alhoewel de beproevingen groot zouden zijn. Gelijk een leraar, vriend, goede trainer waren ze steeds bezig om meer te doen zodat ze ons konden bewijzen dat het einde zou bestaan uit victorie en geluk.
Geliefde gemeente van Christus,
Vandaag bekijken wij wat Paulus heeft doorgegeven aan Timoteus. Eingelijk kunnen wij het niet zien, wel het waarom. Voorheen was Paulus een iemand die Christenen vervolgde en liet lijden, maar na zijn ontmoeting met Jezus op de weg naar Damascus bekeerde hij zich en werd een Prediker / Evangelist.
Zijn hele leven lang heeft Paulus onze erfenis voorbereid via alle brieven en daden in het stichten van een nieuwe gemeente. Hij wist dat het einde van zijn leven nabij was, maar hij was tevreden met zijn leven. Hij vond dat hij alles had uitgevoerd wat God van hem verlangde en was helemaal klaar voor zijn ontmoeting met God. Paulus vond dat hij zijn strijd goed had gestreden; gelijk een sport-atleet had hij zijn uiterste best gedaan waarmee hij een goede en beste erfenis zou achterlaten.
Gelijk een estafetloper had hij nu zijn estafette-stok doorgegeven aan Timoteus.
Geliefde gemeente van Christus,
De vraag is nu aan ons of wij ook al ons best hebben gedaan in ons leven? Indien God ons nu terug roept, kunnen wij dan hetzelfde zeggen als Paulus en Andrew Manullang: “Ik heb de wedstrijd goed gestreden, de eindstreep goed gehaald en mijn geloof behouden”.
Wat voor erfenis zult u de volgende generatie achterlaten? Paulus gaf het advies om trouw te blijven in het geloof en gaf daarvan een goed voorbeeld aan Timoteus. Andrew gaf het voorbeeld door niet op te geven; hij bleef ook trouw in zijn geloof tijdens de strijd met zijn ziekte. Bent u allen ook bereid om het voorbeeld te geven trouw te blijven in het volgen van Jezus? Paulus gaf de erfenis over het geloof in Christus en het uitvoeren van God’s wil aan Timoteus.Ook wij hebben allen deze erfenis gekregen om zo goed mogelijk te leven in Christus zodat we de estafette-stok kunnen doorgeven aan anderen. Moge wij allen in staat zijn deze erfenis achter te laten aan anderen door ons geloof in Christus.Amen.


Khotbah Minggu Advent ke-3
Saya baru saja kembali ke Indonesia untuk pernikahan adik saya. Beberapa bulan sebelum pernikahan ini berlangsung, nenek saya satu-satunya yang masih hidup, terkena stroke. Kami semua berdoa untuk kesehatannya karena adek saya adalah cucu kesayangan nenek dan dia benar-benar ingin nenek saya datang ke acara pernikahannya. Puji Tuhan nenek saya kemaren saya jumpai dalam keadaan baik dan acara berlangsung dengan baik.
De Nederlandse vertaling van de preek van ds. Binsar J. Pakpahan