Renungan Kebaktian Memasuki Rumah Baru
Mazmur 127:1
Membangun Rumah dengan Pondasi Allah
“Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya;”
Kalau sekarang saya bertanya, di manakah rumahmu? Apa/di mana tempat yang kamu anggap rumah? Kemana kamu pulang? Mungkin jawaban dari Grace dan Boro adalah di Gein, bukan di Bandung lagi. Ini adalah rumah kami. Karena ini adalah rumah kalian.
Apa definisi dari rumah? Dalam bahasa Inggris rumah bisa dibedakan antara home dan house. House merujuk pada sebuah bangunan kongkrit, dengan pintu, ruangan, jendela, air dan listrik. Sedangkan home agak sedikit abstrak karena dia tidak menunjuk kepada sebuah tempat spesifik. Home “is a place of residence or refuge and comfort. It is usually a place in which an individual or a family can rest and be able to store personal property.” (Wikipedia)
Ada sebuah puisi yang menggambarkan apa arti rumah sesungguhnya
If Home is where the heart is ; Then may your Home be blessed
A shelter from the storms of Life; A place of rest,
And when each day is over; And toil put in its place
Your Home’s dear warmth; Will bring its smile
To light the saddest face!
Home memiliki arti yang begitu penting sehingga banyak istilah psikologi dikaitkan dengan home: homesick, homeless, home-abuse. Ini artinya home adalah suatu hal yang penting dalam kebutuhan kita sebagai manusia, dan itu juga alasan mengapa kita mengadakan kebaktian memasuki rumah baru, karena kita ingin memulai sesuatu yang penting dalam hidup dengan langkah yang benar.
Kalau begitu perbedaan home dan house sudah bisa kita simpulkan, home berhubungan dengan perasaan, family. House berhubungan dengan property.
Rumah ini adalah rumah pertama buat Boro dan Grace. Ini kali pertama mereka memiliki sebuah rumah setelah selama ini tinggal di studio di amstel. Ini adalah rumah di mana anak pertama mereka akan lahir. Karena itu, rumah ini memiliki arti yang sangat penting bagi mereka.
Buat orang Batak dan Toraja, rumah (home) bukan sekedar tempat tinggal. Rumah adalah identitas. Seseorang akan merasa terikat kepada rumahnya bukan karena itu property mereka, melainkan karena itu merujuk kepada sebuah identitas. Orang Toraja mengenal istilah tongkonan sebagai pemersatu mereka. Orang Toraja merasa disatukan oleh sebuah tongkonan – sebuah rumah – di mana para leluhur mereka berdiam. Sementara buat orang Batak, terutama di kota besar, identitas sering dihubungkan dengan tempat di mana mereka tinggal, misalnya Ompung par Kelapa Gading, atau Tulang Tanjung Priok. Orang Batak juga selalu pulang setahun sekali dalam acara tahun baru untuk berkumpul dengan keluarga. Intinya rumah itu selain tempat berlindung, juga sebagai identitas seseorang.
Rumah ini menjadi sangat penting karena dia adalah sarana pemersatu para penghuni setelah seharian berinteraksi dengan orang luar. Ketika rumah menjadi tempat yang nyaman dan aman, kita akan mencari perlindungan dengan pulang ke rumah. Kalau kita lelah kita kembali ke rumah. Kalau kita capai kita ingin kembali ke rumah. Kalau ada orang malas/tidak begitu senang untuk pulang ke rumah, artinya dia memiliki masalah di rumahnya.
Statisitik menunjukkan kita menghabiskan lebih dari 1/3 dari hidup kita di dalam rumah, dan sebagian besar berada di kamar tidur. Karena itu sangat penting buat kita untuk membangun rumah yang menjadi istana kita.
Saat ini, kita melihat sebuah house, sebuah bangunan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana house ini menjadi home untuk kita. Bukan hanya buat orang yang tinggal di sini, tetapi juga buat mereka yang datang, bagaimana rumah ini bisa memberikan kehangatan, memberikan perlindungan dan yang paling penting bisa memberikan makanan kepada yang kelaparan (misalnya buat saya sendiri kalau kelaparan seperti natal tahun lalu).
Kita juga bisa merasakan energi yang positif apabila sebuah rumah itu adalah home. Kalau kita ke sebuah tempat dan memiliki perasaan yang kurang baik artinya ada yang negatif dari rumah tersebut. Apabila orang sering bertengkar maka akan terasa perasaan negatif dari rumah tersebut.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa rumah bisa menangkap emosi kuat yang diberikan oleh penghuninya. Artinya kalau ada orang yang marah di sebuah tempat, ketika dia pergi, kemarahannya masih akan tinggal di tempat itu dan bisa diukur dengan alat tertentu. Karena itu apabila kita memasuki sebuah tempat yang memiliki sisa energi negatif, kita harus membersihkannya dulu dengan doa dan energi positif.
Ini juga sebabnya dari dulu orang Cina sudah merasakan pentingnya rumah dan mengembangkannya dalam ilmu feng shui dan hong shui. Orang Israel juga seperti itu dalam membangun rumah dan sinagoge mereka.
Rumah dalam bahasa Yahudi adalah bayith {bah’-yith}, artinya 1) house 2) place 3) receptacle 4) home, house as containing a family 5) household, family 5a) those belonging to the same household 5b) family of descendants, descendants as organized body 6) household affairs 7) inwards (metaph.)
(TWOT) temple adv 9) on the inside prep 10) within
Rumah memiliki arti yang penting juga buat mereka, dan karena itu rumah harus dibangun di dalam Tuhan. Pemazmur berkata, Jika bukan Tuhan yang membangun, sia-sialkan kita membangunnya.
Kita bebas membeli property apa saja, tetapi rumah yang baik harus selalu berdasar kepada kasih Tuhan. Tuhan menjadi pemberi energi positif untuk rumah kita.
Kita bisa saja menghias rumah dengan segala jenis furniture made in Italy, tapi kalau bukan Tuhan yang menjadi dasar rumah tersebut, maka damai tidak ada di dalamnya. Kalau Tuhan menjadi pondasi dalam rumah kita, maka furniture IKEA akan terasa seperti IKEA dengan sentuhan Italy
Tuhan memberi keyakinan dan keamanan. Tuhan memberi damai dan ketenangan.
Karena itu sebelum kita khawatir bagaimana tampilan fisik rumah kita, kita sebaiknya membangun pondasi yang kuat dulu di dalam Tuhan. Rumah yang pondasinya tidak baik lebih sulit untuk diperbaiki karena selain tampilan fisik, dia juga harus merenovasi pondasi. Yang paling penting adalah membangun rumah kita di dalam Tuhan. Undang Tuhan dalam rumah ini, jadikan dia sebagai tempat memuji Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati rumah ini dan juga segala isinya. Amin.
