Oleh: Mula Harahap
Di dalam budaya Batak–terutama pada masa saya kecil–menyebut nama orangtua adalah sesuatu yang tabu. Para orangtua hanya dipanggil seturut dengan gelar atau julukannya: Si Kombes, Par Serpong, Amani Kika dsb. Atau, mereka hanya dipanggil seturut dengan inisial namanya: M. Harahap, S. Siagian, M. Hutahaean dsb.
Salah satu alasan yang memotivasi saya untuk bisa membaca sebelum duduk di bangku TK adalah karena ingin mengetahui nama kakek saya. Saya ingat, dalam sebuah acara keluarga seorang saudara sepupu saya, yang sudah duduk di bangku sekolah, bercanda dengan kakek saya. Tiba-tiba KTP kakek terjatuh dari kantong dan direbutnya. Lalu dengan cepat ia membacanya dan tertawa-tawa, “Ha-ha-ha! Aku tahu nama Ompung….” Sejak itu saya bertekad harus tahu membaca, dan tahu banyak rahasia.
Mengetahui nama bapak atau ibu dari teman kita adalah sebuah penemuan yang luarbiasa. Penemuan itu bisa dipakai sebagai bahan pemerasan, sebagaimana yang dilakukan oleh jaksa-jaksa kita terhadap para tersangka tindak pidana penyalagunaan BLBI. “Kalau kau tidak mau mentraktir aku makan es potong, akan kuberitahukan kepada semua orang nama bapakmu…,” begitulah selalu nada ancaman itu.
Nama bapak selalu dipakai sebagai bahan ejekan. Bahkan penyebutan nama bapak bisa mengakibatkan perkelahian besar di antara anak-anak.
Sampai saya duduk di kelas 3 SD saya berhasil menjaga kerahasiaan nama bapak saya. Sementara itu di fihak lain saya juga berhasil mengetahui nama bapak dari sejumlah kawan saya. Pengetahuan itu biasanya dilakukan dengan cara barter. Kalau saya berikan satu nama bapak dari seorang kawan, maka kawan saya akan memberikan pula satu nama bapak dari kawan lainnya.
Kadang-kadang nama bapak dari seorang kawan juga bisa diperoleh dengan menguping pembicaraan orangtua. Boleh jadi bapak kawan kita itu dulunya adalah kawan sekampung dari orangtua kita.
Nama bapak saya mulai tesebar ke seantero kelas gara-gara kesalahan Pak Sinaga–guru kelas saya waktu itu. Ketika sedang membagi buku raport, alih-alih memanggil nama saya, ia memanggil nama bapak saya yang memang tertera di halaman kedua dari buku raport tersebut.
“Aminuddin Harahap….” katanya dengan suara menggelegar.
Jantung saya terasa copot. Seisi kelas tertawa terbahak-bahak. “Ha-ha-ha-ha! Kami tahu nama bapakmu.……”
Sejak peristiwa itu nama bapak saya menjadi ejekan di seantero sekolah. Orang-orang menyanyikannya dalam sebuah syair, yang pada waktu itu, memang sangat populer di kota Medan: “Aminuddin….terkincit dalam kain….baunya bukan main….dicium orang kawin…..”
Tentu saja saya hanya bisa memangis dalam hati mendengar ejekan itu. Siapa bisa melawan sejumlah anak dari kelas yang sama atau kelas yang lebih tinggi? Apalagi, ketika itu saya hanyalah seorang anak lelaki yang bertubuh krempeng dan tak pandai berkelahi.
Urusan dengan nama “aminuddin” baru bisa selesai ketika di kelas empat, selama setahun, kami pindah dan menetap di Jakarta. Dan ketika kemudian saya kembali lagi ke sekolah yang sama kawan-kawan saya sudah nyaris melupakannya
Dulu saya selalu menganggap nama bapak saya terlalu sederhana. Dia tidak seperti nama bapak kawan-kawan saya: Christopher, Yohanes, Washington dsb. Apalagi–yah, itu tadi–ada sebuah syair lagu di Medan yang memakai namanya.
Saya pernah bertanya kepada kakek saya, “Mengapa Ompung memberikan nama-nama yang kampungan kepada beberapa anak Ompung? Ada Aminuddin, Arbian, Nurain, Hasnah…..”
Kakek saya yang bernama Kores Harahap itu menjawab, “Aku ini lama menjadi guru di pedalaman Aceh. Aku ini orang Kristen. Aku harus pandai-pandai bergaul dan membawakan diri. Ketika bapakmu lahir maka ada sahabatku sesama guru yang berkata, ‘Engku, nama anakmu biar aku yang berikan….’ Lalu diberikannyalah nama Aminuddin itu. Begitu juga dengan namboru-namborumu. Aku tak bisa menolak keinginan kawan-kawanku. Itu pengormatan. Tapi setiap kali aku cuti dan pulang ke Sipirok, anak-anakku kubawa ke gereja dan kupermandikan dengan nama-nama itu, dalam nama Bapa–Putera–Roh Kudus.…”
Sejak itu saya bangga dengan nama bapak saya. Dan saya bangga dengan ompung saya, guru sekolah dasar Melayu yang selalu takut akan tuhannya, tapi tahu apa artinya hidup sebagai minoritas di tengah sebuah budaya mayoritas [.]