Oleh: Mula Harahap
Ketika anak-anak saya masih duduk di bangku SD maka ada satu kegiatan kurikuler mereka yang selalu membuat saya naik pitam: Kegiatan membuat klipping. Saya tidak tahu apakah kegiatan itu termasuk dalam bidang studi bahasa Indonesia atau bidang studi prakarya. (Tapi tampaknya dia termasuk dalam bidang studi bahasa Indonesia).
Saya naik pitam bukan karena koran atau majalah itu digunting-gunting, ditempeli dengan rapih di atas kertas, difotokopi lalu dijilid rapih dengan “spiral binding”. Saya naik pitam karena kegiatan itu terkesan seperti kegiatan yang tak memakai otak.
“Pak, kata guru besok kami harus membuat klipping tentang Pekan Olahraga Nasional,” begitulah biasanya kata anak-anak kepada saya.
“Ya, buatlah. Disitu ada setumpuk koran dan majalah.”
“Yah, bapak dong yang cariin…..”
Tentu saja saya tak pernah mau melakukan hal bodoh seperti itu. Biarlah anak-anak–yang sudah tak suka baca koran itu–melakukannya sendiri.
Setelah judul berita di koran itu dilirik sebentar, biasanya anak-anak langsung mengguntingnya dan menempelnya dengan rapih di atas lembaran kertas putih ukuran kwarto.
“Pak, minta uang dong untuk memfotokopi dan menjilid,” kata anak-anak.
Pada tahap ini biasanya saya naik pitam lagi. Bukan urusan uang fotokopi itu yang membuat saya marah. Tapi klipping koran yang hanya ditempel-tempel tanpa ada upaya membuat komentar atau catatan itulah yang membuat saya marah.
Kata saya kepada isteri saya, “Kalau saya menjadi guru mereka, maka alih-alih menyuruh mereka merobek-robek koran, maka saya akan mengajar bagaimana membaca koran dan berdiskusi tentang berita yang ada di koran….”
“Akh, sudahlah, tak usah kau pikirkan yang bukan urusanmu,” kata isteri saya. “Nanti, kalau kau punya uang, bangun sekolahmu sendiri dan ajari apa yang kau suka kepada murid-muridmu.”
Biasanya keesokan harinya anak-anak akan kembali memperlihatlkan kepada saya berapa nilai yang diperolehnya dari guru atas pekerjaan membuat klipping tersebut. Puteri saya pernah mendapat nilai 8 (delapan) atas sebuah klipping yang tebal dan rapih, dan yang isinya merupakan gabungan guntingan Kompas dan Newsweek.
“Apakah kau diminta oleh guru untuk menceritakan isi klippingan-mu itu di depan kelas?” tanya saya.
“Yah, nggak dong. Bapak ini koq aneh-aneh saja,” jawab puteri saya sambil menatap saya dengan terheran-heran. Kembali saya naik pitam.
Kini kalau saya bertemu dengan orang-orang muda yang suka “memforward-forward” atau “mengcopy-copy paste” tulisan orang lain, atau yang suka mengutip-ngutip pendapat dari berbagai buku tanpa pernah menyebutkan pendapat atau pikirannya sendiri, maka mengertilah saya mengapa mereka jadi demikian: Merekalah generasi anak-anak yang dibesarkan dengan mata pelajaran “membuat klipping” itu.
Kadang-kadang saya bertanya dalam hati, “Bagaimana anak-anak ini menyelesaikan pelajarannya di perguruan tinggi?”
Ketika kemarin saya melintas di sebuah pasar di perempatan Jalan Matraman Raya dan Jalan Pemuda, Jakarta, saya rasa saya telah menemukan jawabannya. Di sana banyak kios-kios yang ditempeli dengan papan promosi: Menerima Pembuatan dan Pengetikan Skripsi.
Tiba-tiba terbayanglah di mata saya wajah anak perempuan saya itu, ketika masih duduk di bangku SD, yang terheran-heran karena saya bertanya apakah mereka pernah mendiskusikan makalah yang berisi kumpulan klipping itu di kelas. Ya, ‘gitu saja koq repot-repot?! [.]