Oleh: Mula Harahap
Kemarin ketika pulang dari Medan saya dititipi oleh-oleh berupa makanan. Sebenarnya saya adalah orang yang paling malas untuk membawa oleh-oleh dari sebuah perjalanan. Anak-anak saya yang sudah dewasa itu tak terlalu perduli dengan oleh-oleh. (Bagi mereka oleh-oleh itu hanya satu macam: uang). Dan lagipula, saya adalah orang tak suka repot-repot bila masuk ke kabin pesawat terbang.
Karena sanak-saudara sudah berlelah-lelah membelinya, terpaksa jugalah saya bawa oleh-oleh itu. Tapi sepanjang perjalanan menuju Bandara Polonia saya terus berpikir bagaimana membawa oleh-oleh yang “ribet” tersebut ke dalam kabin.
Ketika sedang menunggu giliran check-in, saya melihat orang-orang di sekitar saya ternyata membawa oleh-oleh yang sama dengan saya: bolu gulung “meranti” yang dikemas dalam kotak dan diberi tali untuk memudahkan menentengnya. Ternyata orang-orang itu memasukkan oleh-olehnya sebagai bagasi. Dengan senang hati saya pun melakukan hal yang sama.
Tapi ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan hendak memungut bagasi saya jadi pusing tujuh keliling. Ada tujuh atau delapan kotak dengan merek “bolu meranti” yang berjalan di conveyor-belt. Semua tanpa nama pemilik. Terpaksalah saya harus memelototi setiap kotak untuk mencocokkan nomor pada stiker klaim yang melekat di kotak itu agar sesuai dengan nomor pada potongantiket yang ada di tangan saya.
Oleh-oleh berupa makanan khas setiap kota memang lucu-lucu: Dulu oleh-oleh yang khas dari Medan adalah bika ambon dan sirop markisa. Saya tidak tahu sejak kapan bolu gulung “meranti” (pabriknya terletak di Jalan Meranti–Medan) mulai menggeser popularitas bika ambon dan markisa.
Disebabkan oleh alasan praktis yaitu agar tidak repot menenteng bika ambon atau markisa itu ke kabin pesawat terbang, maka dulu ada “sistem” yang memungkinkan kita hanya membawa secaris kertas yang disebut “DO” (Delivery Order). Kertas itulah yang kita berikan kepada sanak-saudara yang kita kasihi, lalu urusan mereka selanjutnyalah untuk mengklaim bika ambon atau markisa itu di kantor perwakilan fabrikannya yang ada di Jakarta.
Sekarang saya tak pernah lagi melihat “sistem” itu. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor kemacetan lalulintas Jakarta yang sudah sampai ke tingkat jahanam itu. Seandainya ada seseorang dari Medan memberikan saya oleh-oleh berupa secarik kertas “DO”, maka saya pun pasti akan marah. Pasti saya akan berkata, “Kau suruh saya yang tinggal di Ciputat ini untuk mengklaim sekotak markisa di Pluit? Kau makan sendirilah oleh-olehmu itu….”
Oleh-oleh dari Palembang juga sering membuat saya tersenyum-senyum. Kalau kita naik pesawat terbang dari Palembang, maka setibanya di Bandara Soekarno-Hatta baju kita pasti akan berbau khas. Kabin pesawat terbang yang berangkat dari Palembang selalu berbau cuka empek-empek. (Dan saya rasa salah satu keahlian yang dimiliki oleh security yang memelototi layar monitor pemeriksaan x-ray di Badara Polonia–dan yang tidak dimiliki oleh security di tempat lain–adalah mendeteksi durian).
Disamping ikan bilis kering, maka oleh-oleh dari kota Padang yang mengesankan saya adalah keripik singkong bersambal atau “keripik balado”. Salah satu merek yang terkenal ialah keripik balado “Rohana Kudus”. Dulu saya pikir keripik tersebut adalah buatan keluarga atau keturunan pahlawan nasional itu. Tapi ternyata yang membuatnya adalah orang Tionghoa. Dinamakan “Rohana Kudus” karena pabriknya terletak di Jalan Rohana Kudus–Padang. Tak bisa saya bayangkan apa yang akan terjadi kalau saya membuat oleh-oleh babi panggang, lalu produk itu saya namakan sesuai dengan nama jalan dimana usaha saya berada, misalnya Jl. H. Agus Salim–Kabanjahe atau Jl. K.H. Hasyim Ashari–Tarutung.
Bandung adalah kota yang paling kreatif dan suka gonta-ganti oleh-oleh. Dulu pernah terkenal kue “soes merdeka”. Lalu kue keju “kartika sari”. Lalu brownies kukus (saya lupa mereknya).
Sebagaimana layaknya turis-turis Jakata yang “frenzy” dengan oleh-oleh makanan khas dari sebuah kota, saya pun pernah menemani seorang teman untuk berbelanja kue “kartika sari” di tokonya yang terletak tak jauh dari stasiun kereta api itu. Kami tiba di tempat itu jam tujuh pagi. Tapi orang-orang yang mengendarai mobil dengan pelat nomor B itu sudah antri untuk belanja. Kata saya dalam hati, “Pemilik usaha oleh-oleh ini sungguh adalah orang yang paling diberkati Tuhan. Begitu bangun tidur dan cuci muka mesin kasnya telah bergemerencing…..”
Yogyakarta juga memiliki beberapa makanan khas yang oleh industri “dibaptis” menjadi oleh-oleh. Ada gudeg dan ada “bakpia pathuk”. Oleh suratkabar pernah diberitakan bahwa pada sebuah liburan panjang turis-turis domestik yang datang ke Yoyakarta kehabisan “bakpia pathuk” (ada beberapa merek yang hampir sama).
Magelang juga punya banyak oleh-oleh yang khas: ada getuk lindri, wajik dan makanan lainnya. Saya sangat terkesan dengan wajik “nyonya weik”. Bukan karena rasanya, tapi karena mereknya. Membuat makanan dengan merek “uek” saya rasa sungguh adalah sebuah keberanian. Keberaniannya mungkin sama dengan orang yang memberi merek rumah makannya “sabar menanti”. Kalau sudah lewat tengah hari dan perut sudah keroncongan, maka “sabar menanti” adalah rumah makan yang paling tak ingin saya kunjungi.
Tapi walaupun saya bukanlah orang yang “care” untuk menenteng oleh-oleh, sesekali saya tergerak juga untuk membelinya. Di Magelang saya pernah membeli kerak nasi yang sudah dikeringkan dan diberi rasa garam atau gula itu. Oleh-oleh itu mengingatkan saya akan masa kecil saya:
Dulu ibu saya selalu menanak nasi dengan periuk (bukan dengan dandang, apalagi “rice cooker”). Karena itu, di dasar periuk selalu tersisa kerak. Dan sebagai anak paling tua, yang punya rahang dan gigi paling kuat, maka adalah tugas saya untuk memakan kerak nasi itu. Oh, oleh-oleh….! [.]