Oleh: Mula Harahap
Saya masuk TK Immanuel tahun 1959. Ketika saya masuk, kelas sudah berjalan selama beberapa bulan. Saya ingat benar akan hal ini, karena teman-teman saya sudah bisa menghafal beberapa nyanyian dan sudah terampil menempel-nempel kertas.
Ketika itu, tahun 1959, seluruh Perguruan Immanuel masih berlokasi di kompleks gereja GPIB, di Jalan Diponegoro. Hanya ada satu SD, yang terdiri dari enam kelas dan enam lokal, serta satu TK. Ruangan TK berada di ujung utara dekat Jalan Cut Meutia. Setahun kemudian, ketika murid-murid kelas enam SD tamat, barulah Immanuel membuka SMP-nya. Dan TK terpaksa dipindahkan ke kompleks asrama Bala Keselamatan di Jalan H. Samanhudi.
TK di masa saya hanya terdiri dari satu lokal. Di dalam lokal itu ada tiga deretan meja dan kursi dengan warna yang berbeda-beda. Anak-anak besar menempati deretan meja berwarna hijau dan merah. Inilah mungkin yang sekarang disebut dengan TK Besar. Sedangkan anak-anak yang lebih kecil menempati deretan meja berwarna kuning. Inilah mungkin yang sekrang disebut dengan TK Kecil.
Kesan yang masih kuat melekat pada saya hingga kini ialah, bahwa ruangan TK itu berbau karbol. Saya tidak tahu apakah bau ini memang benar-benar bau karbol yang dipakai untuk membersihkan lantai yang setiap hari kotor karena kencing dan berak anak-anak; ataukah bau
ini adalah campuran lem yang dipakai untuk pelajaran tempel-menempel.
Bau karbol dan citra guru TK yang kejam pada waktu itu, begitu kerasnya melekat dalam jiwa saya, sehingga sekarang pun, kalau mencium bau rumah sakit atau bau WC umum, saya selalu teringat akan TK di masa saya kecil.
Lagu pertama yang saya pelajari di TK ialah sebuah lagu yang mengajarkan kami untuk menjadi seperti lilin. “Yesus katakan, kami haruslah, jadi seperti lilin yang bersinar terang….” Ketika masih di TK tentu saja saya memahami syair lagu tersebut dalam perspektif yang tersendiri. Dan kini, empat puluh lima tahun kemudian, saya memahaminya dalam perspektif yang tersendiri pula. Kalau datang godaan untuk mengambil jalan pintas atau melakukan sesuatu yang kurang pantas
di dalam kehidupan masakini, maka syair lagu semasa TK itu lamat-lamat akan terngiang kembali di telinga saya.
Di TK kami mempunyai dua guru, yaitu Ibu Pondaag dan Ibu Tobing. Ibu Pondaag terutama bertanggung-jawab terhadap anak-anak “bangku merah” dan “bangku hijau”, sedangkan Ibu Tobing bertanggung-jawab terhadap anak-anak “bangku kuning” dan menjadi pemain piano yang mengiringi seantero kelas bernyanyi.
Secara jujur saya harus mengatakan bahwa Ibu Pondaag adalah guru yang menyeramkan bagi saya. Kalau saja cucu saya nanti dididik di TK oleh guru dengan metode mengajar seperti Ibu Pondaag, maka saya pasti akan mengajukan protes keras ke pengurus sekolah.
Kami tidak diperkenankan berbicara semasa jam pelajaran. Kalau ada anak yang berbicara semasa jam pelajaran, maka ia akan mendapat hukuman “straf–mulutnya diikat dengan sapu tangan selama satu jam! Kadang-kadang ada pula anak yang harus menjalani hukuman dengan mulut, tangan dan kaki diikat! Saya ingat, saya juga pernah mendapat hukuman “berangus”
gaya TK Immanuel itu. Hukuman itu membuat saya trauma untuk angkat suara di kelas. Dan sebagai akibatnya, suatu hari, ketika ingin kencing, saya tidak berani mengatakannya. Jadilah saya kecing di celana.
Kalau sedang mendapat hukuman, kadang-kadang kami ingin “naik banding” kepada Ibu Tobing yang ramah dan yang di atas bibirnya ada tahi lalat itu. Tapi Ibu Tobing hanya sibuk mengurusi “bangku kuning”. Mungkin juga Ibu Tobing bisa memahami penderitaan kami, tapi
dia tidak ingin terlibat konflik dengan koleganya, Ibu Pondaag.
Pelajaran TK dimulai jam tujuh pagi dan berakhir jam sebelas siang. Saya selalu dijemput oleh ayah jam satu siang, bersamaan dengan bubarnya kelas empat sampai enam SD. Hari pertama menunggu jemputan, saya menangis, karena halaman sekolah sangat sepi. Yang tinggal hanyalah suara burung gereja yang sibuk memperebutkan remah-remah roti bekas makanan anak-anak ketika jam istirahat atau suara burung pelatuk di sebuah pohon di pojok halaman dekat Jalan Cut Meutia. “Huk…huk…huk.” Dan bagi seorang anak kecil, suara itu tentu sangat menakutkan.
Tapi hari-hari berikutnya saya sudah mulai bisa mengisi waktu menunggu yang panjang dan sepi itu. Kadang-kadang saya sibuk mencari undur-undur, yang banyak membuat sarangnya pada tanah kering di bawah teritisan atap gereja. Kadang-kakdang saya sibuk membariskan ulat-ulat bulu, yang pada musim tertentu banyak memenuhi pepohonan besar di halaman sekolah.
Kadang-kadang, saya juga sibuk menangkap kupu-kupu gajah yang tersasar ke halaman sekolah. Adik-adik saya selalu kagum melihat saya pulang membawa barang-barang yang aneh dari sekolah. Kadang-kadang saya pulang membawa lebah yang diikat dengan benang. Salah satu ketrampilan saya semasa di TK ialah mengeluarkan sengat lebah tanpa harus membunuhnya.
Lagu lainnya dari masa TK yang saya ingat sampai sekarang ialah sebuah lagu tentang sepasang tangan, yang dinyanyikan sambil melakukan peragaan. “Tangan saya berdua kuletak di meja, lalu ke atas pundak ke atas kepala. Kuangkat tangan satu yang lain pun juga. Disodok tangan kiri berputar akhirnya…” Ketika saya telah berkeluarga dan memiliki anak, lagu itu kembali saya nyanyikan di depan anak-anak. Mereka senang sekali dan menganggap saya sebagai bapak yang
luarbiasa.
Lagu-lagu yang lainnya lagi–tentu saja–adalah lagu-lagu berbahasa Belanda, tentang Sinterklas yang pergi naik kapal dan tentang sapu tangan yang diletakkan di belakang seorang teman [.]