Oleh: Mula Harahap
Saya tidak ingat apakah cerita tentang tetangga kami yang satu ini sudah pernah
diceritakan oleh adik saya Daniel Harahap dalam buku memoarnya “Anak Penyu Menggapai Laut”, atau belum. Tapi seandainya pun sudah, izinkanlah saya membaginya kembali:
Ketika masih kanak-kanak, kami tinggal di sebuah rumah besar warisan Belanda di kompleks perumahan pegawai dari sebuah balai penelitian perkebunan di Kampung Baru–Medan. Rumah besar berlantai dua itu dihuni oleh tiga keluarga. Di atas ada Keluarga Harahap, dan di bawah ada Keluarga Susilo dan satu keluarga lagi yang terdiri dari seorang lelaki tua keturunan Yahudi-Belanda dengan beberapa anak asuhnya.
Nama lelaki tua itu adalah “p#e@**t”. Kalau nama itu dilafalkan maka wajah para ibu dan bapak yang berasal dari etnis Batak pasti akan menjadi merah-padam. Karena itu sejak kecil kami selalu diajarkan oleh ayah dan ibu untuk memanggil lelaki itu dengan sebutan “Oom Tua”, “Oom Pantang” atau “Oom Salahnama”.
Oom Salahnama adalah lelaki yang ramah dan suka bergaul. Ketika saya masih kecil saya sering berkunjung ke rumahnya. Dia mempunyai pengalaman hidup yang sangat berwarna. Dia pernah menjadi jurumasak kapal, penyanyi tonil, pegawai perkebunan Belanda dsb. Saya selalu terkagum-kagum setiap kali mendengar kisah hidupnya. Tapi kalau Ayah mengetahui saya berkunjung ke rumah oom tersebut, saya selalu kena damprat.
“Kau tidak boleh main ke sana!” kata ayah.
“Kenapa tidak boleh?” tanya saya kepada ayah.
“Pokoknya tidak boleh!”
“Apakah karena namanya yang salah itu?”
“Pokoknya tidak boleh!”
“Tapi dia baik sama kami dan suka memberi kami makanan….”
“Hah, apalagi itu. Jangan sekali-kali saya mendengar bahwa kau menerima makanan dari dia….”
Sebenarnya saya tidak bisa memahami apa alasan Ayah melarang saya untuk bergaul dengan oom yang baik itu. Tapi karena ayah mengatakannya dengan mata melotot, gigi atas dan gigi bawah yang terkatup rapat serta tulang rahang yang bergerak-gerak, maka tentu saja saya tidak berani melakukan protes lebih jauh. Apalagi, Ibu selalu menengahi dan berkata, “Sudahlah, ikuti sajalah apa kata bapakmu…..”
Tapi sesekali kalau ayah dan ibu tidak ada di rumah, saya beranikan juga untuk melanggar larangan tersebut. Suatu hari saya datang menyelinap ke rumah Oom Salahnama. Setelah mengobrol kesana-kemari, entah bagaimana ceritanya, Oom Salahnama memperlihatkan kepada saya sebuah album yang berisi gambar-gambar porno. Sebagai seorang anak yang penuh “curiousity” dan sedang beranjak ke masa akil baliq, tentu saja saya sangat tertarik melihat gambar-gambar itu.
Tapi begitulah, sementara saya sedang memelototi gambar-gambar itu, Oom Salahnama mengingsut dan duduk lebih rapat di samping saya. Tiba-tiba saya terkejut dan ketakutan karena melihat tangannya yang penuh ditumbuhi bulu itu sedang merayap di paha saya yang hanya ditutupi oleh celana pendek itu. Saya langsung melompat dan berlari pulang. Sejak peristiwa itu saya tak pernah tertarik lagi untuk bertamu ke rumah Oom Salahnama.
Tentu saja saya tak berani meceritakan pengalaman itu kepada ayah. Bisa-bisa saya akan “digibalnya”. Tapi sebagai abang yang bertanggung jawab, dan yang biasa berbicara lebih terbuka serta blak-blakan dengan adik-adik, maka kepada mereka saya katakan, “Heh! Jangan kau main-main ke sana. Dirogoh Si P#@*t itu nanti p#@*t k’lian……” [.]