Oleh: Mula Harahap
Program Pascasarjana Komunikasi Politik Universitas Indonesia, menggelar diskusi publik soal iklan politik, Rabu (19/11) di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat. Mengangkat tema Dengan Iklan
Politik Menuju Kontrak Politik? diskusi ini menghadirkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Anas Urbaningrum, Rizal Mallarangeng, Wiranto, Effendi Ghazali, dan Garin Nugroho (Harian KOMPAS, Selasa 18 November 2008)
Di dunia hewan–terutama di dunia kera–pemimpin itu biasanya muncul dari bawah. Dan untuk bisa menaiki jenjang kepemimpinan maka seekor kera harus benar-benar bisa membuktikan bahwa dirinya memang layak diakui sebagai pemimpin. Kera itu harus melewati berbagai pertempuran.
Di balik bulu-bulu kera yang menjadi pemimpin sekelompok kawanannya itu biasanya akan banyak sekali ditemukan “scars” dan pitak-pitak bekas cakaran dan gigitan lawan dalam berbagai pertempuran. Tapi deretan scars dan pitak-pitak itulah yang membuat sang pemimpin menjadi sedemikian berwibawa dan disegani. Kalau ada kera-kera lain yang ingin mengganggu maka sang pemimpin cukup menyeringai dan menaikkan bulu-bulu lehernya dari kejauhan, lalu mereka yang hendak coba-coba membikin gara-gara itu akan segera menyingkir jauh-jauh.
Sampai beberapa waktu yang lalu hal yang sama juga terjadi di dunia manusia.Mereka yang terpilih menjadi raja atau jenderal biasanya memang sudah bertarung sejak dari bawah. Karena kepalanya masih melekat di badannya sajalah (tidak sampai kena tebas lawan) maka dia yang terpilih.
Tapi perkembangan demokrasi dan revolusi yang terjadi dalam teknologi media-komunikasi memang telah mengubah segala-galanya. Kini di dunia manusia–terutama manusia Indonesia–untuk bisa terpilih jadi pemimpin seseorang tak perlu lagi harus melewati berbagai pertempuran sejak dini. Dia cukup memanipulasi media dan membangun politik pencitaan atas dirinya.
Pada fihak lain, cilakanya, kriteria masyarakat tentang seorang pemimpin pun mulai bergeser. Orang tak perduli lagi seberapa banyak scars dan pitak-pitak yang telah dikumpulkan oleh si calon pemimpin. Orang lebih perduli dengan cara berbicara, cara berpakaian dan bungkus-bungkus lain dari sang pemimpin. Bahkan apa visi si calon pemimpin pun nyaris tak disimak.
Karena itu tidak usah heran kalau pemain sinteron atau bintang seminar bisa terpilih menjadi pemimpin. Tidak usah heran pula kalau seorang “anak manis” yang tidak pernah memimpin sekelompok kecil massa pun bisa menjadi pemimpin besar. Dan akhirnya tidak usah heran pula kalau setelah terpilih menjadi pemimpin mereka ternyata tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya menjadi sekedar penggembira dari sebuah proses yang bernama demokrasi.
Saya bukan anti terhadap demokrasi, dan bukan pula hendak menganjurkan agar kita kembali ke jaman jahiliah. Yang hendak saya pesoalkan ialah, bagaimana menciptakan sebuah mekanisme pemilian, agar di tengah-tengah berondongan dan manipulasi media massa, kita tetap berhasil memilih pemimpin yang sejati, yaitu mereka yang memang telah berhasil melewati berbagai palagan persoalan bangsa dan negara.
Atau dalam bahasa dunia kera, bagaimana menjaring pemimpin yang punya banyak scars dan pitak-pitak dalam kehidupannya, sehingga ketika nanti dia duduk di tampuknya, cukup dengan sedikit sorotan mata dan senyum menyeringai, kepemimpinannya sudah berjalan secara efektif [.]