Oleh: Mula Harahap
Saya suka memperhatikan gerak orang ketika sedang memanjat batang pinang atau tiang listrik. Biasanya orang itu akan lebih dulu menjepit batang pinang tersebut dengan kedua pahanya. Kemudian bagian tubuhnya yang sebelah atas direnggangkannya sedemikian rupa. Sampai pada suatu ketinggian tertentu, giliran kedua kedua tangannya yang menjepit batang pinang tersebut. Kemudian seraya kedua tangannya menjepit batang pinang, kembali diangkatnya bagian tubuhnya yang sebelah bawah.Sampai pada ketinggian tertentu, kembali lagi dia menjepit batang pinang tersebut dengan kedua pahanya. Begitulah jepitan paha dan tangan terjadi silih-berganti seraya orang itu semakin mendekat ke pucuk pohon.
Saya mengibaratkan kedua paha yang menjepit itu sebagai dasar dari negara-bangsa ini. Dan kedua tangan yang menjepit itu sebagai pembangunan dari negara-bangsa ini dalam upayanya mencapai tujuannya.. Karenanya kalau negara-bangsa ini telah berada pada tataran tertentu maka Pancasila haruslah dikembangkan. agar bisa menjadi dasar yang lebih kokoh bagi upaya lebih mendekat ke tujuan. Hal yang sebaliknya juga berlaku: Pembangunan sebagai upaya negara-bangsa ini mencapai tujannya adalah sebuah keniscayaan untuk mengembangkan Pancasila, sehingga dari kesepakatan-kesepakatan pokok yang bersifat garis besar, perlahan-lahan dia menjadi sebuah nilai atau budaya.
Kalau dewasa ini timbul apatisme atau sinisme terhadap Pancasila maka alih-alih memeriksa ketidak-beresan itu pada sisi Pancasila-nya, maka ada baiknya juga kalau kita memeriksa sisi pembangunan-nya. Kalau pembangunan kita memang tidak kunjung berhasil membawa negara-bangsa ini semakin dekat ke tujuannya (masyarakat adil dan makmur), mengapa pula kita harus menuntut Pancasila untuk bisa menjadi sebuah nilai atau budaya?
Memikirkan dan membicarakan Pancasila sama dengan memikirkan dan membicarakan strategi kebudayaan dalam membangun peradaban dari negara-bangsa yang bernama Indonesia.
Sebagaimana layaknya sebuah strategi kebudayaan (dalam membangun peradaban dari negara-bangsa bernama Indonesia) maka janganlah kita terjebak dan meredusir Pancasila hanya sebagai sebuah cara mengelola kemajemukan, atau–yang lebih parah lagi–hanya sebagai sebuah cara dalam mengatur hubungan Islam dengan agama-agama lainnya. Pancasila harus dipikirkan dan dikembangkan secara lebih kreatif dan menyeluruh.
Mari kita pikirkan dan kembangkan Pancasila sebagai sebuah strategi kebudayaan. Karena itu tugas dan tanggung jawab untuk memikirkan dan mengembangkannya bukan hanya ada pada penyelenggara negara (dengan model “GBHN” dan “butir-butir pengamalan” yang menjemukan itu). Tapi ada pada kita semua dan dalam berbagai cara.
Ketika Andrea Hirata menulis “Laskar Pelangi”, ketika Garin Nugroho membuat serial filem tentang kehidupan anak di seantero Nusantara, ketika Andi F. Noya mengangkat kisah kehidupan yang otentik dari seorang manusia Indonesia, maka itu semua adalah upaya memikirkan dan mengembangkan Pancasila [.]