Oleh: Mula Harahap
Kami dibesarkan di dalam rumah yang tak mengenal budaya merayakan ulang tahun. Dulu kalau salah seorang dari kami berulang tahun, Ibu hanya berkata, “Oh, selamatlah, ya. Sudah tambah umurmu. Karena itu baik-baiklah kau….” Tidak ada pesta dan tidak ada kue tart. Karena itu kami sering terheran-heran kalau menghadiri pesta keluarga (pakai kebaktian segala) yang diadakan oleh namboru-namboru kami ketika salah seorang anaknya berulang-tahun.
Seingat saya hari ulang tahun paling istimewa yang pernah saya alami ketika masih tinggal dengan ayah, ibu dan adik-adik di Medan ialah ketika saya duduk di bangku SMP. Oleh ibu saya diberikan sejumlah uang yang bebas saya gunakan untuk apa saja. Uang itu saya belikan sebungkus rokok Dji Sam Soe untuk saya nikmati bersama kawan-kawan di sekolah dan buku “Merahnya Merah” serta “Ziarah” karangan Iwan Simatupang, yang saya baca sampai kepala pening karena tak kunjung bisa memahami apa maksud novel yang absurd itu.
Rumah yang tak mengenal budaya merayakan ulang tahun itu tentu saja sering menimbulkan insiden. Saya ingat, pada suatu malam tanggal 28 Agustus, namboru-namboru saya datang ke rumah hendak menyalam ito mereka (ayah saya) yang sedang berulang-tahun. Ketika namboru-namboru itu pergi ke dapur (sebagai boru adalah tugas mereka untuk “marhobas” di rumah ito-nya) mereka hanya melihat ikan selar goreng dan daun ubi tumbuk di lemari makan. Lalu saya mendengar mereka berbisik-bisik. Mungkin mereka sedang mempergunjingkan betapa “kejam”-nya eda mereka (ibu saya) kepada ito yang mereka cintai itu (ayah saya). Tapi kemudian–dan inilah yang yang tak bisa saya lupakan–mereka menyuruh salah seorang dari anak mereka untuk pergi dan tak lama kemudian kembali lagi dengan membawa kwetiau goreng, fuyunghai, capcay dan durian. Hari itu kami merayakan ulang tahun ayah dengan makan besar.
Bagi kami anak-anak lelaki (ada lima orang) rumah yang tak mengenal budaya merayakan ulang tahun tentu saja tak pernah menjadi pemikiran. Tapi bagi ito atau adik perempuan saya hal itu rupanya “kepikiran” juga. Suatu kali, ketika masih di bangku kelas 1 atau 2 SD, dia mengambil prakarsa sendiri mengundang teman-temannya tanpa konsultasi dengan Ibu. Tentu saja kawan-kawannya datang dengan senang hati dan membawa kado. Lalu terpaksalah ibu jadi “humalaput” menyiapkan makanan “dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” untuk teman-teman ito saya yang datang ke rumah.
Di tahun pertama pernikahan kami, isteri saya pernah ribut dengan saya karena pada hari ulang tahunnya saya pulang malam hari. Saya memang ingat akan tanggal ulang tahunnya. Tapi ketika tanggal itu tiba, saya tidak “ngeh”. Isteri saya pun diam-diam saja. Ketika dia tak menerima ucapan selamat dari saya di pagi harinya, dia masih menghibur hatinya dan berharap bahwa ucapan selamat itu akan datang siang hari lewat telepon. Dan ketika siang hari ternyata tidak ada juga ucapan selamat, dia masih menghibur diri dan berharap bahwa ucapan itu akan datang malam harinya (bersama seikat kembang, sebotol parfum, atau apalah). Tapi ketika malam hari ternyata tidak ada juga ucapan selamat, tentu saja dia jadi meledak.
Sejak peristiwa itu saya pun selalu mencamkan dalam hati dan mewanti-wanti diri saya tentang tanggal ulang tahunnya. Dan Tuhan yang maha baik itu juga rupanya sangat memahami akan kekurangan saya yang sering lupa akan tanggal ulang tahun orang. Anak pertama saya lahir sehari lebih dulu dari tanggal lahir ibunya. Dua tanggal istimewa yang berderet tentu saja tidak akan mudah lagi untuk saya lupakan.
Berbeda dengan saya, isteri saya memang punya kebiasaan untuk mengingat tanggal ulang tahun orang. Di dinding lemari makan kami selalu tergantung sebuah daftar yang terdiri dari beberapa lembaran karton berisi tanggal ulang tahun siapa saja: keluarga, kawan sekolah, kawan kantor, kawan gereja dsb. Setiap hari isteri saya pasti tahu siapa yang sedang berulang-tahun dan selalu mengucapkan selamat lewat telepon. (Dan karena kebiasaannya itu dia sering menjadi bahan guyonan anak lelaki saya. Kalau kami sedang bepergian bersama, anak lelaki saya suka menunjuk sembarang orang yang ada di pinggir jalan lalu menggoda ibunya, “Mama, tahu nggak kapan tanggal ulang tahun orang itu?”).
Kalau saya berulang tahun, adik-adik saya pun jarang mengucapkan selamat kepada saya. Demikian juga sebaliknya. Tapi saya tak pernah merasa berkecil hati dengan perlakuan adik-adik saya itu. Ketika kami baru menikah isteri saya selalu bingung melihat “adat” keluarga Harahap Par Kampung Baru itu. Tapi sekarang dia sudah paham. Dan saya rasa dia juga sudah bisa menerima alasan mengapa dulu saya pernah lupa akan tanggal ulang tahunnya.
Sebagai orang yang dibesarkan di dalam rumah yang tidak mengenal budaya merayakan ulang tahun, maka beberapa bulan lalu, ketika cucu saya Gisella genap berusia 1 tahun dan ibunya memutuskan untuk merayakan hari ulang tahunnya dengan mengundang banyak orang, saya sungguh tak bisa memahaminya. Tapi karena duit yang dipakai untuk perayaan itu adalah duit ibunya Gisella sendiri (puteri saya), dan juga karena di usia yang semakin uzur ini saya sudah malas untuk berdebat-debat, maka saya hanya manggut-manggut saja terhadap gagasan untuk merayakan ulang tahun bayi yang berumur 1 tahun ini. Dan tugas saya untuk menjemput kue tart, meniup balon, dan mengisi “goody bag” saya laksanakan saja dengan beribu perasaan, dan dengan mulut yang terkunci rapat. (Kata isteri saya, “Kau diam saja. Jangan kau banding-bandingkan masa kecilmu dengan masa kecil cucumu. Ibumu dan ibunya juga berbeda…..”).
Kini setelah saya mengenal Facebook, maka saya juga jadi belajar untuk memberi perhatian terhadap tanggal ulang tahun seseorang. Facebook selalu mengingatkan saya tentang siapa-siapa saja yang berulang tahun hari ini, besok dan lusa. Tapi karena pada dasarnya saya dibesarkan dalam rumah yang tak mengenal budaya merayakan ulang tahun, atau budaya untuk memberi perhatian kepada ulang tahun seseorang, maka saya sering lupa melihat catatan yang ada di Facebook itu.
Karena isteri saya dibesarkan dalam rumah yang mengenal budaya merayakan ulang tahun, maka tanggal ulang tahun anak-anak saya–terutama ketika mereka masih kecil–tentu saja selalu dirayakan. Ada pun tentang diri saya sendiri, ucapan selamat ulang tahun dari sedemikian banyak orang pun barulah saya terima setelah saya mengenal Facebook. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya yang sudah lebih dari 50 tahun ini, saya merasakan ulang tahun yang dirayakan pada tahun 2008 lalu. Oleh anak-anak saya, saya dipaksa datang ke Planet Hollywood–sebuah rumah makan di Jakarta–yang di dindingnya bergantungan berbagai baju, sepatu dan barang tetek-bengek lainnya bekas bintang filem Hollywood. Lalu tiba-tiba tanpa saya sadari datang seorang pelayan membawakan kue tart yang di atasnya ada kembang api sedang menyala-nyala dan diiringi nyanyian “Happy Birthday to You”. Perasaan saya tak karu-karuan.
Begitulah, sebagai orang yang dibesarkan dalam rumah yang tidak mengenal budaya merayakan ulang tahun, atau budaya memberi perhatian kepada ulang tahun orang, tapi yang sudah mengenal Facebook dan sedikit “beradab”, maka bersama ini–walau pun terlambat–saya mau mengatakan kepada adik saya Pdt. Daniel Harahap yang berulang tahun pada hari ini 26 Agustus 2009: “Selamatlah, ya. Sudah tambah umurmu. Baik-baiklah kau….”
Catatan:
Mumpung masih ingat (karena diingatkan oleh Facebook) saya juga mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada sahabat-sahabat saya: St. K. Elisnar Sianipar (26 Agustus)–Fransiska Harahap, Lucya Andam Dewi (27 Agustus)–Lucy Pandjaitan, Garibaldi Sujatmiko, Ika Simarmata, Berlin Simarmata (28 Agustus)–Arnold Sipahutar, Lisna A. Panjaitan, Rema Karyanti Soenendar (29 Agustus).