Pernahkah membayangkan betapa rentan dan rapuhnya hidup itu? Hari-hari ini kami bergumul dengan berita yang kami peroleh dari Perinatologist (dokter kandungan spesialis untuk high-risk pregnancy), bahwa cervix Sofie ternyata amat-sangat tipis: 1,5 cm. Ketebalan di bawah 3 cm sudah dianggap membahayakan. Dan sekarang: 1,5 cm. Padahal usia janin baru 26 minggu. Wow … mengerikan. Untungnya, uji lab fribronectin negatif, artinya tidak ada tanda-tanda melahirkan selama dua minggu ke depan, most likely. Terpaksa Sofie harus bedrest, tidak boleh mengangkat benda berat, tak boleh melakukan pekerjaan rumah, dan lain-lain.
Untung Debbi meminjamkan film Korea seri, untuk mengusir rasa bosan yang bisa kubayangkan pasti merasuki Sofie. Belum lagi rasa kuatir menghadapi ketidakpastian ini. Dan untung pula kami bisa memesan rantangan sekali seminggu dari Debbi.
Di tengah kegalauan ini, juga sibuknya aku sebagai Mr. Mom, Dio agak kurang terurus. Tadi siang, ketika aku mengganti sprei, Dio bermain gantungan pakaian di living room. Lito bermain komputer. Entah kenapa, perasaanku tak enak, karena Dio tak terdengar suaranya. Kutengok dia, dan kudapati kotak obat Dio yang kami siapkan untuk seminggu ke depan kosong mlompong. Dan Dio asyik membuka-bukanya. Isinya Levothyroxine, hormon pengganti thyroid yang harus dikonsumsi Dio setiap hari. Kucari tablet-tablet obat di lantai dan meja. Tak ada. Hanya ada satu di lantai. Ke mana lima obat lainnya? Kami kalut luar biasa, karena besar kemungkinan Dio memakannya. Obat untuk seminggu masuk ke perut dalam 1-2 menit.
Segera kutelpon suster jaga rumah sakit. Dan kami langsung disarankan untuk membawa Dio ke Emergency Room Newton-Wellesley Hospital. Di sana, Dio diperiksa jantungnya, diberi minuman sehitam tinta (kuduga semacam Norit di Indonesia) dan diambil darahnya. Sayangnya, obat yang (diduga) dimakan Dio bekerja amat lambat. Jadi, Selasa mendatang kami harus membawanya lagi ke rumah sakit untuk diperiksa darahnya. Yang dikuatirkan adalah, jantung berdebar terlalu keras dan implikasi-implikasi lain yang tak perlu. Lalu kami diizinkan pulang.
Sepulang dari rumah sakit, Dio mencret berkali-kali. Sudah diduga, seperti pesan dokter di ER, bahwa obat hitam legam itu bisa membuat mencret. Warna faesesnya pun hitam legam. Sudah empat kali selama sore ini.
Ah, hidup memang rentan. Menjaga dan merawat kehidupan memang tak mudah. Namun tetap saja berharga untuk dilakoni seberat apa pun. Walau upahnya adalah senyuman manis Dio atau tangisan yang menyebalkan namun tetap saja terasa merdu di telinga. Apalagi ketika ia sudah berkata manja: “Daddy!”
Sementara itu Lito sudah makin dewasa. Hampir 11 tahun. Makin matang dan bertanggungjawab. Melihatnya kami merasa dikuatkan, bahwa bukan tak mungkin memelihara dua kehidupan lainnya yang ditaruh Allah di dalam hidup kami (Dio dan calon adiknya). Lebih capai, jelas. Namun, siapa tahu, bakal lebih marak dan menyenangkan.