Sore ini dengan penuh malas kuantar Lito ke sekolahnya. Ada acara International Dinner, katanya. Terus terang saja, akhir-akhir ini kami agak kendor meneliti informasi dan pengumuman yang diberikan sekolah. Maklum, semenjak Sofie harus total bedrest, irama hidup jadi tak menentu. Untunglah sejam sebelum acara neneknya Lito menyediakan diri membuat kueh lapis dari Hungkwee, supaya Lito tidak datang dengan tangan hampa.
Ternyata, yang datang berjibun. Ada puluhan macam masakan dari berbagai negara dihidangkan. Buatan orangtua murid. Di meja-meja makan dipasang bendera berbagai negara. Mbak Ienas, istreri Ulil, selain membuat Sate Ayam juga menjadi panitia, sibuk menyambut orangtua yang datang.
Sekolah Lito, Bowen Elementary School, memang salah satu sekolah yang unggul dalam menghadirkan nafas multikultural. Kemarin, tiap-tiap anak di kelas lima, mempresentasikan karya PowerPoint mereka masing-masing di hadapan para orangtua yang diundang ke kelas. Yang dipresentrasikan adalah tokoh-tokoh kemanusiaan, mulai dari Indira Gandhi hingga W.E.B. DuBois. Mereka menyebut proyek ini The Power of One. Sekalipun sederhana, ternyata presentasi Power-Point mereka tidak jadi Powerless-Pointless. Mengesankan malah. Lito memilih Benjamin Banneker sebagai figur presentasinya.
Itu kira-kira salah satu aspek yang kusukai dari sekolah dasar di dekat rumahku itu.