Hari-hari ini aku berada di ambang batas imajinasi. Pasalnya, prospektus disertasi musti masuk dalam waktu dekat. Judul sementara yang terbayang adalah: Toward a Perichoretic Theology of Religions. Melalui tema ini disertasiku bakal berada di titik simpang antara teologi trinitarian dan teologi agama-agama; sekawan dengan Raimundo Panikkar, S. Mark Heim, Gavin D’Costa, Jacques Dupuis dan teolog-teolog agama-agama lain yang memasuki wilayah ini melalui jalan trinitarian. Secara khusus apa yang kubayangkan adalah: memakai nosi perichoresis sebagai kategori utama membaca kepelbagaian agama. Thesis awalku adalah bahwa tiga model yang ditawarkan oleh trinitarian theologians of religions selama ini bisa disinkronisasi melalui nosi perichosesis ini. Model pertama ditawarkan oleh Panikkar, di mana Trinitas menjadi prinsip kesatuan realitas; model kedua–yang paling lazim–memakai pendekatan “dua tangan Allah” dari Irenaeus, yang menempatkan Kristus dan Roh Kudus dalam relasi dialektis; model ketiga diajukan oleh Mark Heim yang melihat Allah Tritunggal sebagai “lokasi” di mana multiple religious ends berada.
Kini aku berusaha memperlihatkan bahwa ketiga model ini bisa dipahami sebagai dimensi yang berbeda dari satu realitas perichoretic dari Trinitas. Yang dibutuhkan sekarang adalah sebuah proses imajinatif untuk meramu ketiga model ini bersama, sembari memperluas makna perichoresis yang dalam tradisi Bapa-bapa Gereja sekedar menunjuk pada realitas intra-Trinitarian.
Namun, batas imajinasi sudah kujumpai. Alias: mentok.