Sepenggal kalimat serendipituous yang terujar dalam percakapanku dengan Riyanto Ong di milis Cyber-GKI:
“sebuah teks baru hidup karena interpreter yg hidup. sayangnya teks yang mati bisa mematikan interpreter, justru ketika interpreter itu berusaha menghidupkan teks tanpa merayakan kehidupan di dalam diri si interpreter.”
29 Maret 2007