Kamis, 13 September 2007. Sekitar pukul 02.30 pagi. Dengan terperanjat aku dibangunkan isteriku. “Dio kejang-kejang. Badannya panas.” Begitu kata isteriku dengan nada sangat gelisah. Langsung kutelpon suster jaga 24 jam dan kami diminta untuk segera membawa Dio ke Emergency Room. Sejak itu, selama beberapa belas jam sesudahnya, hati kami sungguh menciut. Di ruang ER, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari X-Ray hingga tes darah. Sekitar sejam kemudian, hasil lab muncul. Dio dinyatakan bebas dari infeksi bacteria. Dokter menyimpulkan bahwa Dio mengalami kejang akibat panas mendadak yang muncul akibat infeksi virus. Kami diizinkan pulang. Namun ketika menunggu proses pemulangan, Dio kejang-kejang lagi. Dan kali ini terjadi berulang kali. Dokter langsung memutuskan Dio untuk mondok. Hati saya runtuh seketika. Ada apa ini? Langsung saja suster menyuntikkan Ativan, sejenis obat penenang. Lalu saluran infus dipasang di tangannya. Beberapa saat kemudian dokter masuk dan melakukan pengambilan cairan dari tulang belakang (Cerebrospinal fluid). Belakangan aku baru tahu bahwa epidemic West-Nile dan Meningitis membuat mereka wajib melakukan prosedur yang menyakitkan itu.
Selama proses berjam-jam di ruang ER, Dio menangis terus. Setiap kali suster atau dokter selesai melakukan sebuah tindakan, dia selalu berkata parau, “Bye …” seolah-olah ia yakin sudah diperbolehkan pulang. Namun, ternyata tidak. Setelah suntikan Ativan, Dio tertidur pulas, dengan pipi menempel di dadaku. Kulihat sekilas pipinya masih basah dengan air mata. Dan sesekali ia mengeluarkan suara sesenggukan.
Aku sempat keluar sejenak dan menitipkan Dio ke suster. Sofie sebentar lagi datang dengan membawa Dillion. Aku harus ke mobil untuk mengambil carseat. Di mobil mendadak dadaku begitu penuh. Dan aku menangis sekeras-kerasnya. Menangisi Dio. Tangisan yang jauh lebih kencang sejak terakhir aku menangis pada tahun 2002. Aku menangis tak tahan melihat Dio yang tak jelas nasibnya. Aku menangis karena tak berdaya melakukan apa-apa. Aku menangis memprotes Tuhan, namun sekaligus harus kuakui, aku menangis meminta Tuhan menolong Dio.
Akhirnya, Dio dipindahkan ke ruang 605. Di sana Dio menangis seharian, karena merasa frustasi tak bisa memakai tangan kirinya akibat infus yang terpasang. Wajahnya sudah begitu kuyu dan letih. Hingga akhirnya ia tertidur pulas sekitar pukul 12 siang bersama Sofie. Malamnya, aku tidur di rumah, mendampingi Lito dan Dillion. Dillion sempat bangun minta susu, sekitar pukul 3 subuh. Dan baru tidur lagi pukul 5 pagi. Saat teman-teman muslimku pasti tengah sahur.
Di rumah sakit, pagi-pagi, Dio ditransfer ke ruang MRI. Sekali lagi ia disuntik obat bius supaya tidak bergerak selama pemeriksaan otak. Satu jam kami tak bisa mendampingi Dio adalah saat paling menyesakkan. Akhirnya Dio keluar dan kami boleh mendampinginya. Dan hasil MRI pun keluar. Tak ada masalah dengan otaknya.
Hari itu Dio diizinkan pulang. Semua kemungkinan penyebab kejang sudah dieliminasi. Tinggal satu yang akhirnya menjadi kesimpulan: Dio kejang karena panas akibat infeksi virus. Belasan jam yang meletihkan. Namun, sejak itu, setiap kali menatap wajah anakku, Dio, ada sejumput rasa aneh yang tak kurasakan sebelumnya. Sejenis rasa makin sayang, sejenis rasa welas. Nasibnya sungguh tak bisa dibilang baik. Lahir prematur (32 minggu), 27 hari menetap di rumah sakit di hari-hari awal hidupnya, divonis menderita hypothyroidism yang membuatnya harus menelan hormon pengganti setiap hari seumur hidup, terkena cacar air (chicken pox) ketika berusia 3 bulan, sudah diopname beberapa hari ketika berusia 10 bulan akibat infeksi RSV (Respiratory syncytial virus), lalu masuk ER akibat menelan jatah obat tiroid seminggu. Dan kini kejang-kejang.
Namun juga ada pengalaman baru lain. Semacam penglihatan baru. Aku samar-samar makin melihat wajah Dio (kata Latin untuk Tuhan) di wajah Dio, anakku.