-
-
Oleh : Harnata Simanjuntak
“….Akan halnya aku tak dapat segera menjumpaimu dan menuntaskan dendam rindu, jangan pulalah engkau menduga ianya siasat belaka. Banyak helah dan alasan kuhujah agar merdeka dari penjara tanah ini, namun setumpuk muka masam, dengus dan cibir mereka – para
-
Kemarin, di tengah jalan aku bercakap - cakap dengan Ditha ketika membawanya pulang sekolah."Lihat boru, banyak polisi berjaga di jalan. Bararti ada pejabat mau datang.""Pejabat itu apa Pa?""Pejabat ya orang penting. Yang memerintah. Misalnya presiden, gubernur, walikota, ya mentri.""O, yang naikkan BBM itu ya Pa?"Aku pun garuk-garuk kepala, eh, helm.
-
Di kota Dumai, bilangan keluarga yang terhimpun dalam Punguan Si Raja Marsundung tidaklah banyak, dibanding anggota punguan marga lain. Sekitar seratus duapuluhan keluarga. Itu pun sudah termasuk boru bere dan ibebere. Yang menyandang marga Simanjuntak – Raja Marsundung adalah perhimpunan seluruh marga Simanjuntak – tak sampai tiga puluh keluarga. Jadi boru bere dan ibebere jauh lebih banyak.
-
Hingga hari sabtu yang lalu (5/4) aku masih menghadiri satu lagi pesta bona taon. Bukan sebagai peserta, melainkan penghibur. Bersama dua lagi temanku, yang satu semargaku Simanjuntak, satu lagi bermarga Simatupang, kami bernyanyi menghibur di banyak pesta batak. Nama kelompok kami, Trio Flamingo. Meski dengan formasi berbeda, antara kami bertiga sebenarnya telah pernah bersama dalam kelompok
-
Tahun Baru, Pesta, Babi, Kerbau, Sapi, Musik, Poco-poco, Anak Medan. Atau : Bona taon, toktok ripe, iuran taon, manortor, hasil tortor, na somargota, na margota, parsubang, hula-hula, hela-boru-bere, anggota baru. Jangan bingung kawan. Itu tadi semua adalah lema-lema yang selalu ditarikan lidah orang Batak dalam dua tiga bulan ini. Yah, paling tidak di kotaku inilah, Dumai. Wajib hukumnya
-
Biasanya, untuk memudahkan pekerjaan ini, kami menggunakan alat bantu. Semacam “burner” yang digunakan perajin rotan. Memakai bahan bakar minyak tanah, “burner” itu dengan leluasa akan melalap sisa-sisa rambut babi (untuk Amasada, sebenarnya lebih sering panangga alias sigagat solop alias anjing), karena ia dengan mudah digenggam dan apinya ditembakkan kesana-kemari. Mungkin, karena ketika
-
Sejak awal Desember tahun lalu, acara ini telah dirancang. Membuhul hari, menentukan lokasi, siapa saja yang diundang, dan gerangan siapa pendeta yang akan berkotbah. Kalaupun kemudian tuan rumah berganti, dan yang berkotbah pun bukan pendeta – karena terlambat menghubungi – namun sintua, tak apalah. Tak ada Pesta Bona Taon yang urung. Bagi orang Batak Kristen, Pesta Bona Taon adalah
-
oleh : harnata simanjuntakAdam : Adakah lagi yang kau tawarkan?Eve : Selain kelamin? Tidak. Dulu sekali kutawarkan hati. Digagahi juga. Hatiku hamil tapi tak beranak. Busuk dan mati. Jadi kau berutang hati padaku. Tapi, hendak kau bayar bagaimana? Telah lebih dulu kau gadaikan hatimu dan tak tertebus. Mau kutawarkan apa lagi? Semua tubuhku adalah
-
Luahon Damang yang kini dipopulerkan ulang oleh Trio Ambisi adalah sebuah lagu bernuansa kerisauan, namun iramanya rancak, meski tak terlalu menghentak. Latar belakang lagu ini sepertinya adalah resesi yang menghempaskan nilai tukar rupiah di jaman revolusi (?) dulu, sehingga seorang ayah/ibu meminta anaknya berpikir ulang perihal perkawinan, karena sudah tak cukup duwit untuk