-
Sudah dua hari dua malam pendeta Hisab hinggap di langgatan. Belum kunjung reda pembatas maya. Tak tertahankan lagi, ingin ia membuang hajat, sendawa di bawah. Tak tertahankan baunya. Sintua Dapot yang setia menunggu di bawah hampir muntah, beriak bergelombang perutnya. Agaiamang bau nai, rutuknya dalam hati. Titit, titit, berbunyi hempon Sintua Dapot. SMS masuk. Dibacanya, ba sian pandita i do
-
parsinuan, ditha, pho!, pangintubu :-)
-
Terbetik kabar, Paladimir berniat mendirikan sebuah gereja baru. Kabar ini makin santer, karena khalayak mengaitkan dengan selisih paham yang terjadi antara Paladimir dan sekumpulan sintua beberapa waktu lalu. Merasa terancam, mereka, para sintua tadi, mendatangi Pendeta Togu dirumahnya untuk klarifikasi. Waktu itu sudah hampir malam, dan sang pendeta baru saja selesai martapian. “Horas Amang
-
(sebuah cuplikan untuk kisah yang lebih panjang, tapi belum selesai
ditulis, hehehe..)
------------------------------------------
"Mandok hata sian ale-ale."
Tengah hari begini semestinya panas berpeluh.
Mata Paladimir berpendar mengelilingi satu per satu sahabatnya yang
hadir. Mereka adalah para sahabat si mati. Ia sangat yakin,
masing-masing mereka pasti telah menyiapkan berbaris